BANGSA
KASIHAN
Kahlil
Gibran
Kasihan
bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan
roti dari gandum yang tidak dituainya
dan
meminum anggur yang tidak diperasnya
Kasihan
bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan
menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.
Kasihan
bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara
menyerah padanya ketika bangun.
Kasihan
bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali
jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak
sesumbar kecuali di runtuhan,
dan
tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah
berada di antara pedang dan landasan.
Kasihan
bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya
karung nasi,
dan
senimannya tukang tambal dan tukang tiru.
Kasihan
bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan
trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya
untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.
Kasihan
bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung
tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya masih dalam gendongan.
Kasihan
bangsa yang berpecah-belah,
dan
masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.
Gambaran
bangsa dalam puisi dari Kahlil Gibran diatas tentu membuat kita merasa sangat
miris. Saat membacanya tak henti-henti saya mencoba merefleksikan diri, apakah
saya kini sedang menjadi bagian dari sebuah bangsa yang digambarkan oleh Khalil
Gibran? Saya bisa membayangkan bangsa seperti apa yang sedang dilihat oleh
Khalil Gibran dalam imajinasinya saat menuliskan puisi ini, atau mungkin Khalil
Gibran tidak melihat bangsa itu sekedar dalam imajinasinya namun ia melihatnya
secara langsung dalam kehidupan nyata? Entahlah! Namun saya akan menggambil sikap
yang jelas, saya menolak menjadi bagian dari bangsa kasihan dan saya percaya sikap
saya untuk menolak menjadi bangsa kasihan tentu juga akan didukung oleh semua
orang yang menyebut diri mereka Bangsa Indonesia.
“Kasihan bangsa yang
memakai pakaian yang tidak ditenunnya.” Masih ramai
diperbincangkan bagaimana prokontra peraturan pemerintah yang menolak impor
pakaian bekas. Menolak menjadi bangsa kasihan menuntut kita untuk mencintai
produk bangsa, mencintai dan menggunakan kain yang dibuat oleh pengrajin
tradisional maupun desainer Indonesia. Ketika kita menolak menjadi bangsa kasihan
berarti kita menolak menyampingkan produk Indonesia dan mengagung-agungkan
produk bangsa lain. Mari kita dukung peraturan pemerintah untuk menolak impor
pakaian bekas asing.
“Kasihan bangsa yang
menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan.” Betapa malang
bangsa yang bahkan mengangkat orang bodoh menjadi pahlawan. Saya pernah
mendengar sebuah kalimat yang mengatakan saat
satu anjing mengonggong, anjing yang lain akan ikut menggonggong tanpa tahu apa
sebabnya. Baris dalam puisi Kahlil Gibran ini mengingatkan saya pada pesta
demokrasi yang baru saja berlangsung. Pesta itu sangat menarik perhatian bangsa.
Sebuah fenomena yang positif bagi perpolitikan di Indonesia namun sayangnya
seringkali kita tersulut emosi untuk mempertahankan calon yang kita anggap
benar, pendapat dan keyakinan kita dalam melihat kepantasan seseorang menjadi
pemimpin digiring oleh media, isu, bahkan fitnah yang beredar tanpa terlebih
dahulu mencari tahu kebenarannya. Kita terlalu banyak bicara hingga lupa punya
telinga untuk mendengar. Dari peristiwa itu mari kita belajar untuk tidak mudah
tersulut dalam rumor yang kebenarannya bahkan tidak dapat
dipertanggungjawabkan.
“Kasihan
bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan.”
Terlepas dari tepat atau tidaknya penerapan hukuman mati bagi pengedar
narkoba, saya sangat mengapresiasi pemerintah Indonesia yang tidak gentar
dengan intervensi dari pihak luar. Sikap pemerintah menunjukkan bahwa negara
kita adalah negara yang berdaulat dibidang hukum.
“Kasihan
bangsa yang orang sucinya dungu menghitung tahun-tahun berlalu dan orang kuatnya
masih dalam gendongan.” No!
Sekali lagi saya tegaskan kita bukanlah bangsa kasihan yang bahkan orang
kuatnya masih dalam gendongan. Kita bukan bangsa yang sedang menunggu hadirnya ‘gatot
kaca’ lakon yang disebut-sebut akan membawa kedamaian pada negeri. Kita adalah
bangsa yang orang kuatnya telah hadir. Orang kuat itu adalah kita, saya dan
anda. Menolak menjadi bangsa kasihan berarti kita mengambil peran menjadi orang
yang hadir untuk membawa kebaikan bagi bangsa ini. Banyak hal yang dapat
menunjukkan bahwa kita sangat mencintai bangsa ini. Mari kita mulai melangkah
untuk menolak menjadi bangsa kasihan.